Tekan Angka Stunting dari Hulu ke Hilir, Dinkes Depok Perkuat Kolaborasi Puskesmas dan RT/RW

Dinkes Kota Depok memperketat pengawasan kelompok berisiko seperti ibu hamil KEK dan balita untuk menekan angka stunting melalui sinergi Puskesmas dan RT/RW.

VOPT5lXIpjXi62S2o8XgcBncNetyNCymBraKEfRz

Foto: Dok. Nur Aprida Sani/Diskominfo Depok

LensaDepok – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok, Devi Maryori, kembali menegaskan komitmen Pemerintah Kota (Pemkot) Depok dalam mempercepat penurunan angka stunting secara berkelanjutan.

Melalui komitmen yang kuat, program percepatan penurunan stunting sebagai prioritas pembangunan di Kota Depok diharapkan dapat terealisasi secara optimal. Komitmen ini diwujudkan dalam aksi nyata berupa pengawasan ketat yang menyasar langsung kelompok-kelompok masyarakat rentan.

“Penurunan stunting itu harus secara komprehensif. Ada yang spesifik dan sensitif, dari hulu ke hilir. Intinya dari segala aspek itu,” ujar Devi pada Selasa (22/09/26).

Komitmen Pemkot Depok ini juga dibuktikan dengan keikutsertaan dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Teknis dan Advokasi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting Regional Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara tahun 2026 bersama Sekretariat Wakil Presiden (Satwapres) RI secara daring dari Balai Kota Depok.

Intervensi Spesifik Puskesmas dan Kolaborasi RT/RW

Menurut Devi, jajaran puskemas di tiap wilayah menjadi ujung tombak dalam menjalankan program pengawasan stunting terhadap warga yang berisiko memiliki anak stunting.

Adapun beberapa langkah pengawasan spesifik yang dilakukan meliputi pengukuran lingkar lengan atas pada kelompok ibu hamil yang mengalami Kekurangan Energi Kronis (KEK), serta perawatan intensif bagi bayi dengan kondisi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).

Selain itu, dilakukan pula pemantauan tumbuh kembang dan berat badan secara berkala untuk kelompok anak usia di bawah dua tahun (baduta) melalui program pendampingan serta Pemberian Makanan Tambahan (PMT).

Dalam menjalankan berbagai langkah pengawasan tersebut, Devi menekankan pentingnya sinergi antara jajaran puskesmas dengan pengurus RT, RW, kelurahan, kecamatan, hingga tokoh masyarakat setempat.

“Puskesmas dengan klinik sebagai garda terdepan berkolaborasi dengan kader, tokoh masyarakat, RT, RW, lurah, camat, gitu sehingga makin lama makin sedikit itu risiko ditemukannya (anak stunting), karena semua tidak bisa hanya dilakukan oleh tenaga kesehatan saja,” terangnya.

Devi mengungkapkan, kolaborasi juga dapat diperkuat melalui edukasi langsung oleh para kader kepada ibu hamil dan menyusui, serta pengawasan aktif dari pengurus RT/RW terhadap warganya yang memiliki faktor risiko tinggi.

Melalui pengawasan yang semakin padu ini, Devi berharap kasus stunting di Kota Depok dapat terus ditekan menuju terwujudnya Kota Depok yang maju dengan sumber daya manusia yang unggul.

“Harapannya Depok bisa lebih meningkatkan peran pengawasan kelompok berisiko itu, intervensinya yang tepat, sehingga angkanya dapat ditekan sesuai harapan,” ungkap Devi.

“Pemkot Depok terus bersemangat untuk melakukan pemantauan dan pengawasan demi mewujudkan Indonesia Emas 2045,” tandasnya.