Dekat Stasiun dan Fasilitas Memadai, Depok Open Space Primadona Seniman Lintas Daerah Berlatih
Depok Open Space (DOS) jadi tempat favorit komunitas teater Akular dan seniman Jabodetabek berlatih karena lokasinya yang strategis dekat stasiun dan ramah warga.
Foto: Dok. Bima Muhammad Iqbal/Diskominfo Depok
LensaDepok.com – Di tengah hiruk-pikuk Kota Depok, Depok Open Space (DOS) tak hanya menjadi tempat warga berolahraga atau bersantai. Ruang terbuka publik ini juga menjelma menjadi “rumah” bagi komunitas seni untuk berkarya, salah satunya Kelompok Teater Aktor Kulit Luar (Akular).
Bagi Akular, DOS bukan sekadar lokasi latihan, tetapi ruang yang memungkinkan seni tumbuh lebih dekat dengan masyarakat. Suasana yang terbuka membuat setiap proses kreatif dapat disaksikan langsung oleh warga yang melintas.
Sutradara Pementasan Teater Kapai-Kapai, Yuanditra Bhayu Utarto, mengatakan bahwa Akular memilih DOS karena lingkungannya yang kondusif dan dipenuhi berbagai aktivitas positif.
“Selama kami berlatih di sana suasananya sangat mendukung. Masyarakat juga sering berinteraksi dengan kami, mulai dari menonton latihan hingga berdiskusi tentang teater,” ujarnya kepada media ini, Selasa (4/8/2026).
Ruang Publik sebagai Jembatan Seniman dan Warga
Menurut Yuanditra, keberadaan ruang publik seperti DOS memiliki peran yang sangat penting bagi komunitas seni. Selain menyediakan tempat latihan yang aman dan nyaman, ruang terbuka juga mampu mempertemukan seniman dengan masyarakat secara langsung.
“Di ruang publik seperti DOS, kegiatan seni menjadi lebih dekat dengan masyarakat. Dari situ tercipta interaksi, apresiasi, sekaligus pertukaran gagasan,” katanya.
Yuanditra mengungkapkan bahwa antusiasme masyarakat terhadap latihan teater cukup tinggi. Tak sedikit warga yang sengaja berhenti untuk menyaksikan latihan, bertanya tentang proses pementasan, bahkan mengikuti jalannya latihan dari awal hingga selesai.
“Respons masyarakat sangat positif. Ini menunjukkan bahwa ruang publik bisa menjadi jembatan yang menghubungkan seniman dengan masyarakat,” tuturnya.
Tak hanya itu, lokasi DOS yang berada sangat dekat dengan Stasiun Depok Baru juga menjadi nilai tambah tersendiri. Akses transportasi yang mudah membuat para anggota Akular yang berasal dari Depok, Jakarta, hingga Bekasi dapat mengikuti jadwal latihan tanpa kendala berarti.
“Lokasinya sangat strategis dan mudah dijangkau transportasi umum. Ini sangat membantu koordinasi latihan karena anggota kami berasal dari berbagai daerah di Jabodetabek,” jelasnya.
Etalase Terbuka Proses Kreatif
Lebih jauh, Yuanditra menilai bahwa pemanfaatan ruang publik seperti DOS dapat menjadi etalase terbuka bagi proses kreatif para seniman. Kehadiran aktivitas seni di ruang terbuka secara perlahan mampu membangun rasa ingin tahu sekaligus menginspirasi masyarakat, khususnya generasi muda.
“Ketika masyarakat melihat langsung proses berkesenian yang dilakukan secara rutin, mereka akan lebih mudah mengapresiasi bahkan terdorong untuk ikut berkarya. Ruang publik mampu meruntuhkan sekat antara seniman dan warga,” ungkapnya.
Ia berharap Pemerintah Kota Depok terus menjaga dan mengembangkan ruang publik seperti DOS agar semakin banyak komunitas kreatif yang dapat memanfaatkannya.
“DOS bukan hanya untuk komunitas seni, tetapi juga menjadi ruang hidup bagi olahraga, skateboard, dan berbagai aktivitas kreatif lainnya. Semoga tempat ini terus menjadi ruang bertumbuhnya kreativitas masyarakat Depok,” katanya.
Yuanditra pun mengajak seluruh warga untuk memanfaatkan ruang terbuka publik demi kegiatan yang positif dan produktif.
“Mari manfaatkan Depok Open Space dengan sebaik-baiknya sebagai ruang yang produktif, kreatif, dan kolaboratif. Semoga DOS terus menjadi tempat bertumbuhnya seni, budaya, olahraga, dan berbagai kegiatan positif yang memperkuat kebersamaan masyarakat,” pungkasnya.
