Kisah J.M. Jonathans, Presiden Depok ke-9 yang Serahkan Tanah Partikelir ke Pelukan NKRI

Menyusuri jejak sejarah J.M. Jonathans, Presiden Depok ke-9, yang menyerahkan tanah partikelir peninggalan Cornelis Chastelein ke pelukan NKRI.

aCG4DNfy1fmNanJVxvN9JvSH7w7wXC1U89lWDlgH

Foto: Dok. Diskominfo Depok

LensaDepok.com – Hingga pada saat Indonesia menyatakan kemerdekaannya dari penjajah pada tahun 1945, tepat satu tahun setelahnya, J.M. Jonathans secara resmi dilantik menjadi Presiden Depok ke-9.

Namun, perjalanan kariernya tidak berlangsung lama, karena di masa kepemimpinannya, organisasi Gemeente Bestuur Depok berakhir.

Boy, salah satu tokoh penggiat sejarah lokal, mengatakan bahwa setelah merdeka, pemerintah Indonesia melihat bahwa di Depok masih banyak tanah partikelir yang berstatus dilindungi oleh Undang-Undang era Hindia Belanda. Oleh karena itu, pemerintah mengutus Kementerian Dalam Negeri untuk melakukan negosiasi dengan J.M. Jonathans agar tanah partikelir tersebut menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Istana Presiden J.M. Jonathans menjadi saksi bisu proses negosiasi bersejarah tersebut. Melalui diskusi yang cukup panjang, terjadilah kesepakatan bahwa Gemeente Bestuur Depok menyerahkan tanah peninggalan Cornelis Chastelein seutuhnya untuk Indonesia.

“Pak Presiden J.M. Jonathans saat itu menyadari bahwa sekarang kita tidak berada di pemerintahan Hindia Belanda tapi sudah NKRI,” tuturnya.

“Disini ditandatangani berita acara kemudian dibuatlah akta pengalihan tanah partekilir Depok menjadi bagian tidak terpisahkan dari Indonesia,” tegas Boy.

Melestarikan Jejak Kaum Depok di Museum

Keberadaan sembilan “Presiden Depok” di masa lalu kini telah menjadi simbol tradisi pemerintahan yang mandiri dan nilai demokrasi yang kental mewarnai perjalanan sejarah Kota Depok.

“Sebuah sejarah yang tak terbantahkan bahwa Depok dimasa itu punya pemimpin yang bernama presiden, sebagai pemimpin organisasi,” ujar Ketua Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC), Revelino Isakh.

Guna mengenang dan melestarikan jejak sejarah Kaum Depok dari masa ke masa, YLCC kemudian mendirikan sebuah mini museum yang diberi nama Historische Studio. Museum ini berlokasi di area sekolah SMP Kasih, yang pada era Hindia Belanda berfungsi sebagai pusat pendidikan utama di Kota Depok.

Historische Studio menyimpan beragam koleksi memorial perjalanan Cornelis Chastelein dan 12 Marga Kaum Depok, serta peninggalan barang-barang antik berusia lebih dari tiga abad yang masih tersimpan rapi hingga saat ini.

“Mungkin ini pertama kali di kota ini, mini museum tentang cerita 312 tahun perjalanan Kaum Depok itu, menjadi salah satu kebanggaan kami semua hal terkait itu ada di Historische Studio. Dan saya ke depannya akan komitmen bahwa sejarah yang sudah panjang ini terus lestari,” pungkasnya.