Kisah Inspiratif Bryan Budiman: Tinggalkan Karier di AS Demi Majukan Agrikultur Indonesia
Bryan Budiman kembali dari Amerika Serikat untuk mengembangkan bisnis keluarganya di sektor agrikultur lewat ALEEZA Group, MAX Indonesia, dan Podo Joyo.
LensaDepok.com – Di tengah semakin kuatnya daya tarik industri teknologi dan startup bagi generasi muda, Bryan Budiman justru memilih kembali ke Indonesia untuk melanjutkan dan mengembangkan bisnis keluarganya di sektor agrikultur dan pangan.
Setelah menempuh pendidikan Industrial Design dan Entrepreneurship di University of Washington, Seattle, serta memperoleh pengalaman di The Walt Disney Company dan sejumlah proyek bisnis, Bryan membawa pulang perspektif yang ia dapatkan selama berada di Amerika Serikat untuk diterapkan pada bisnis keluarganya di Yogyakarta.
Keputusannya untuk kembali ke Indonesia bermula pada 2020 ketika ia membantu bisnis keluarga yang terdampak pandemi. Setelah menyelesaikan studinya di Amerika Serikat, Bryan kemudian kembali ke Yogyakarta pada 2023 dan mengambil peran penuh dalam pengembangan bisnis keluarga.
Bagi Bryan, meneruskan bisnis keluarga bukan berarti hanya mempertahankan apa yang telah dibangun oleh generasi sebelumnya. Ia melihat adanya kebutuhan untuk menyesuaikan bisnis dengan perubahan teknologi, perilaku konsumen, serta cara masyarakat menjalankan aktivitas bisnis di era modern.
“Saya mempelajari Industrial Design dan Entrepreneurship di University of Washington, Seattle, kemudian mendapatkan pengalaman di The Walt Disney Company dan berbagai proyek bisnis. Namun, pada akhirnya saya memilih pulang ke Indonesia. Saya ingin membawa cara berpikir dan pengalaman yang saya dapatkan di Amerika untuk diterapkan pada bisnis keluarga saya di sektor agrikultur dan pangan,” ungkapnya.
Membawa Cara Berpikir Baru ke Bisnis Keluarga
Pendekatan tersebut kemudian ia terapkan melalui ALEEZA Group, perusahaan yang dibangunnya pada 2023 untuk mengembangkan dua bisnis warisan keluarga, yakni MAX Indonesia dan Podo Joyo.
Menurut Bryan, salah satu pendekatan yang digunakan adalah Business Design. Baginya, desain tidak hanya berkaitan dengan logo atau kemasan, tetapi juga tentang bagaimana memahami kebutuhan manusia dan merancang produk, pengalaman, serta sistem yang dapat memberikan solusi.
“Desain adalah cara berpikir untuk memahami manusia, menemukan masalah yang sebenarnya, lalu merancang produk, pengalaman, dan sistem yang dapat memberikan solusi. Karena itu, bagi saya, desain juga bisa menjadi cara untuk membangun dan mengembangkan sebuah bisnis,” jelas Bryan.
Transformasi kemudian dilakukan dalam berbagai aspek, mulai dari cara perusahaan berkomunikasi dengan pelanggan, bagaimana produk diperkenalkan, proses penerimaan pesanan, pemanfaatan data, hingga penggunaan teknologi dalam operasional sehari-hari.
Langkah tersebut turut mendorong pertumbuhan ALEEZA Group. Perusahaan tersebut mencatat pertumbuhan revenue sekitar tiga kali lipat dibandingkan tahun 2023. Lebih dari 70% pelanggan juga tercatat melakukan pembelian kembali dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.
Salah satu bisnis yang dikembangkan adalah MAX Indonesia, yang bergerak di sektor agrikultur melalui produk pupuk organik cair SuperMAX dan nutrisi herbal MAXIKO.
Bryan berupaya memperkenalkan produk tersebut dengan pendekatan yang tidak hanya menekankan kualitas, tetapi juga edukasi dan penguatan identitas merek agar sektor agrikultur dapat dipandang lebih modern.
Hasilnya, selama Mei hingga Juli 2026, MAX menambah sekitar 10.000 pelanggan. Jaringannya kini telah menjangkau lebih dari 26 daerah di Pulau Jawa dan sejumlah wilayah di luar Jawa. MAX juga telah membina lebih dari 200 mitra serta menjangkau lebih dari 300.000 pembudidaya lokal.
Selain MAX Indonesia, Bryan juga mengembangkan Podo Joyo yang telah berdiri sejak 1981. Bisnis keluarga tersebut kini berkembang menjadi modern retail sekaligus distributor kacang-kacangan dan berbagai komoditas pangan.
Dari sebelumnya yang hanya memiliki tujuh produk, Podo Joyo kini berkembang menjadi 42 varian produk. Jaringannya juga mencakup lebih dari 20 supplier dan lebih dari 450 mitra petani lokal.
Podo Joyo saat ini menjangkau lebih dari 172 area, melayani lebih dari 500 pelanggan aktif, serta mendistribusikan lebih dari 6.500 karung produk setiap bulan. Di Yogyakarta, jangkauannya mencakup lebih dari 80% pengrajin makanan skala besar.
Bagi Bryan, pengembangan MAX Indonesia dan Podo Joyo juga membuka peluang untuk membangun hubungan yang lebih terintegrasi. MAX berada lebih dekat dengan petani dan kebutuhan input pertanian, sedangkan Podo Joyo bergerak pada sisi distribusi komoditas pangan.
Dengan pendekatan tersebut, ia melihat bahwa bisnis keluarga bukan hanya sebagai usaha yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, melainkan sebagai bagian dari ekosistem yang dapat terus berkembang.
“Saya tidak ingin hanya mengatakan kepada anak muda bahwa menjadi petani itu penting. Saya ingin membuat mereka melihat bahwa agrikultur juga bisa menjadi industri yang besar, modern, dan membanggakan,” kata Bryan.
Bagi Bryan, generasi muda memiliki peran penting dalam membawa perubahan di sektor agrikultur. Pengalamannya menunjukkan bahwa meneruskan bisnis keluarga tidak harus berarti berjalan dengan cara yang sama persis seperti generasi sebelumnya.
Justru dengan memahami perubahan zaman, memanfaatkan teknologi, dan berani mengevaluasi cara kerja yang sudah ada, bisnis keluarga dapat memiliki ruang untuk tumbuh sekaligus tetap relevan bagi generasi-generasi berikutnya.
