DKP3 dan Dinkes Depok Berkolaborasi, Terapkan Konsep One Health Bersama BRIN

Pemkot Depok berkolaborasi dengan BRIN, Dinkes, DKP3, dan APCOVE Australia untuk memperkuat pendekatan One Health dalam mencegah penyakit zoonosis di Kota Depok.

D9VYaexicV1gnwzyjFgTfp9aY9oB7eyMVJDPHetG

Foto: Dok. DKP3 Kota Depok

LensaDepok – Pemerintah Kota (Pemkot) Depok terus memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian penyakit zoonosis melalui penerapan pendekatan One Health. Upaya tersebut dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor antara kesehatan hewan dan kesehatan manusia, dengan dukungan lembaga penelitian nasional serta mitra internasional.

Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Depok, Dede Zuraida, mengatakan bahwa kolaborasi ini menjadi langkah penting dalam memperkuat sistem surveilans dan deteksi dini terhadap penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia.

“Pendekatan One Health sangat penting karena pengendalian penyakit zoonosis tidak dapat dilakukan oleh satu sektor saja. Dibutuhkan sinergi antara kesehatan hewan, kesehatan manusia, dan lingkungan,” ujar Dede pada Senin (07/09/26).

Kolaborasi ini melibatkan DKP3 Kota Depok bersama Dinas Kesehatan Kota Depok, dengan dukungan The Asia Pacific Consortium of Veterinary Epidemiology (APCOVE) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kegiatan diinisiasi oleh drh. Nurul Ilma dari UPTD Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Kota Depok sebagai bagian dari program peningkatan kapasitas epidemiologi veteriner yang difasilitasi APCOVE.

Dalam pelaksanaannya, tim Puskeswan Kota Depok terlibat langsung dalam pengambilan sampel, pendataan, serta pendampingan kepada para peternak di wilayah Kota Depok.

Riset Spesifik Brucellosis dan Peran Dinkes

Salah satu penelitian spesifik yang dilakukan berjudul “Seroprevalensi dan Faktor Risiko Brucella sp. pada Sapi Perah di Kota Depok, Indonesia”. Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran akurat mengenai kondisi kesehatan ternak sekaligus mengidentifikasi faktor risiko yang berkaitan dengan potensi penularan brucellosis.

Dede menjelaskan, DKP3 memiliki peran memastikan aspek kesehatan hewan berjalan baik melalui kegiatan surveilans, pengambilan sampel, serta pembinaan dan edukasi kepada peternak.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin memastikan kesehatan hewan dapat terus dipantau. Data dan hasil surveilans juga menjadi bagian penting dalam menentukan langkah pencegahan dan penanganan apabila ditemukan indikasi penyakit,” jelasnya.

Sementara itu, Dinas Kesehatan Kota Depok memperkuat aspek kesehatan manusia melalui kegiatan promosi kesehatan dan edukasi mengenai pencegahan penyakit zoonosis. Edukasi di lapangan dilakukan oleh tim promosi kesehatan Dinas Kesehatan Kota Depok, di antaranya drg. Ihyani Nurdiena Marliamara, yang menyampaikan materi perilaku hidup bersih, pengelolaan risiko paparan hewan, hingga informasi seputar brucellosis.

Dukungan Ilmiah dan Pendampingan Internasional

Menurut Dede, keterlibatan berbagai pihak menunjukkan pentingnya kerja sama yang terintegrasi dalam pemetaan dan pengendalian penyakit.

“Kolaborasi dengan Dinas Kesehatan, BRIN, dan APCOVE memberikan penguatan dari berbagai sisi, mulai dari surveilans, penelitian, edukasi, hingga analisis epidemiologi. Ini merupakan bagian dari upaya membangun sistem pencegahan penyakit yang lebih komprehensif,” tuturnya.

Dukungan ilmiah dalam kegiatan ini diberikan oleh para peneliti BRIN, khususnya dalam penguatan metodologi dan analisis epidemiologi. Pendampingan teknis dilakukan oleh drh. Ardi Budi Prakoso, M.Sc. selaku mentor APCOVE Indonesia.

Kegiatan ini juga mendapat pendampingan internasional dari Anke Wiethoelter, Associate Professor in Veterinary Epidemiology (One Health) di Melbourne Veterinary School, The University of Melbourne. Pendampingan tersebut turut memperkuat kualitas analisis dan penerapan pendekatan One Health secara menyeluruh.

Dede berharap kolaborasi lintas sektor dan lintas negara tersebut dapat terus dikembangkan demi mewujudkan perlindungan kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan di Kota Depok secara berkelanjutan.

“Harapannya, sinergi ini dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Dengan penguatan surveilans, edukasi, serta pertukaran informasi antarsektor, kita dapat meningkatkan kewaspadaan dan melakukan pencegahan secara lebih dini,” pungkasnya.