Atasi Masalah Anak Tidak Sekolah, Garut Gagas Program Orang Tua Asuh

0

Pemerintah Kabupaten Garut bersama Kemendikdasmen terus berupaya menekan angka Anak Tidak Sekolah (ATS) melalui program kolaboratif orang tua asuh dan bantuan pendidikan.

download

Foto: Dok. Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

LensaDepok.com – Suara drum band dan sorak gembira anak-anak menyambut kedatangan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, di Kelompok Bermain Al Ikhlas 158, Desa Pasirkiamis, Kecamatan Pasirwangi, Kabupaten Garut, Sabtu (20/6/2026).

Di balik suasana hangat tersebut, tersimpan satu pesan penting tentang tantangan pendidikan yang masih dihadapi oleh banyak daerah, yaitu persoalan anak tidak sekolah (ATS).

Bagi pemerintah, memastikan setiap anak memperoleh akses pendidikan yang setara bukan sekadar target pembangunan, melainkan amanat konstitusi. Oleh karena itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus mendorong berbagai upaya agar tidak ada lagi anak Indonesia yang tertinggal dari bangku pendidikan.

“Semua masyarakat Indonesia harus mendapat kesempatan atau akses yang sama, mulai dari kota sampai di Pasirkiamis ini, tidak boleh ada yang tersisa, tidak mengikuti pendidikan,” tegas Wamendikdasmen Atip Latipulhayat di hadapan para guru dan orang tua murid.

Menurut Atip Latipulhayat, salah satu tantangan terbesar adalah masih adanya anggapan bahwa bekerja jauh lebih penting daripada melanjutkan pendidikan. Padahal, pendidikan justru menjadi bekal utama untuk meningkatkan kualitas hidup dan nilai ekonomi dari suatu pekerjaan.

Ia mencontohkan bagaimana kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi mampu meningkatkan produktivitas berbagai sektor pekerjaan, termasuk sektor perikanan. Pada kesempatan ini, ia mengajak para orang tua untuk terus memberikan dukungan penuh agar anak-anak mereka tetap bersekolah dan meraih pendidikan setinggi mungkin.

Komitmen Kuat Pemerintah Kabupaten Garut

Komitmen serupa juga ditunjukkan oleh Pemerintah Kabupaten Garut. Di daerah yang memiliki ribuan satuan pendidikan tersebut, upaya menekan angka ATS dilakukan melalui berbagai pendekatan komprehensif; mulai dari bantuan perlengkapan sekolah hingga pengembangan program inovatif orang tua asuh.

Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, mengungkapkan bahwa persoalan putus sekolah masih menjadi pekerjaan rumah yang besar di wilayahnya. Saat ini, terdapat hampir 16 ribu anak yang tercatat tidak melanjutkan pendidikan.

“Kami saat ini juga sedang mendesain konsep orang tua asuh, karena di Garut angka putus sekolah cukup banyak, ada hampir 16.000. Ini menjadi keprihatinan kita bersama, apa pun itu tetap anak kita yang harus kita dorong untuk sekolah,” ujarnya.

Program orang tua asuh tersebut dirancang secara khusus sebagai gerakan kolaboratif yang melibatkan berbagai unsur masyarakat. Tujuannya adalah untuk membantu anak-anak yang berisiko putus sekolah agar dapat kembali belajar di ruang kelas.

Selain itu, Pemerintah Kabupaten Garut juga telah menyiapkan program bantuan pendukung seperti sepatu, tas, dan seragam bagi siswa dari keluarga kurang mampu. Langkah strategis tersebut menjadi bagian dari upaya mengeliminasi hambatan ekonomi yang kerap menjadi alasan utama seorang anak terpaksa berhenti sekolah.

Dalam kesempatan yang sama, Abdusy Syakur turut menyampaikan apresiasi mendalam atas dukungan pemerintah pusat terhadap pembangunan infrastruktur pendidikan di Garut. Dari total sekitar 4.400 ruang kelas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang ada, sekitar 1.000 ruang di antaranya masih membutuhkan perbaikan fisik.

“Kita hanya mampu memperbaiki kurang lebih 45 ruang kelas per tahun. Kalau dihitung-hitung, bisa sampai 30 tahun baru selesai jika tidak dibantu pemerintah pusat,” ungkapnya.

Kunjungan Wamendikdasmen ke Desa Pasirkiamis menjadi pengingat nyata bahwa upaya mengatasi persoalan anak tidak sekolah tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan sinergi dan kolaborasi erat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, institusi sekolah, elemen masyarakat, dan yang paling utama, keluarga.

Dari sebuah desa asri di lereng Gunung Papandayan, Garut sukses menunjukkan praktik baik bahwa pendidikan adalah urusan bersama. Ketika semua pihak bergerak dengan visi yang sama, harapan untuk mengembalikan belasan ribu anak ke bangku sekolah bukanlah sekadar mimpi yang terlalu jauh untuk diwujudkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *